KARTINI DAN LAJU REAKSI

Laju reaksi, begitulah orang kimia menyebutku. Aku bukan seorang Kartini yang dilahirkan untuk membela warganya, khususnya kaum wanita. Dia bak lampu yang menerangi dikala gelap, bagaikan intan yang berkilau di dalam tumpukan pasir, dia mengajarkan pada warga (khususnya warga Jepara) berkarya, membuat produk, yang nantinya menjadi sesuatu yang layak untuk diperjualbelikan. Tidak hanya itu, ia mengajarkan pada kaum perempuan tentang bagaimana mengaktifkan diri dalam masyarakat. Perempuan bukan tidak harus berada di belakang untuk selamanya, banyak potensi yang belum tergali dari kaum perempuan. Mereka tak perlu takut dan bersembunyi dengan mata berkaca-kaca da mulut terbungkam.
Itulah Kartini, lantas bagaimana dengan hidupku? Aku ada karena sahabat-sahabatku yang senantiasa mewarnai hidupku. Bahkan, andaikan sahabatku si Konsentrasi Zat tidak mau berhubungan dengan Waktu, seorang ahli kimiawan sekalipun tak kan pernah barhasil menemukanku.
Hidupku benar-benar tergantung pada mereka. Saat konsentrasi zat diperbesar, Aku turut membesar. Dan sesaat dia diperkecil, Akupun segera mengecil. Alangkah indah hidup ini saat ada seorang sahabat yang setia sebagaimana sahabatku “Si Konsentrasi”. Aku bahagia, namun aku juga merasa hidupku tiada berguna.
Hampir sama dengan Konsentrasi, sahabatku yang satu ini sangat sensitif saat terkena panas dan dingin, sebutlah namanya “Suhu/Temperatur”. Ibuku yang tidak paham dengan kimia juga sangat perhatian dengan Si Suhu sesaat beliau sedang menanak air untuk membuat minuman hangat, bahkan Aku akan dimarahi saat air yang ku masak habis terkikis dalam ceret gara-gara kelalaianku mematikan kompor.
Kembali pada pembahasanku, keberadaanku sangat tergantung pada Si Suhu. Tidak lain halnya dengan Si Konsentrasi. Ketika praktikan dalam sebuah percobaan kimia mereaksikan dua zat atau lebih, mereka mengatur suhu sedemikian rupa. Ketika Si Suhu meningkat, Akupun bergerak lebih cepat. Dan ketika Si Suhu diturunkan oleh para praktikan, Akupun berjalan pelan.
Selanjutnya, jasa sahabatku yang bernama “Luas Permukaan”. Dia tidak pernah risi sesaat Aku mengintai dirinya, bahkan dia mengetahui posisiku sebagai penguntit sejati. Aku hanya tersipu malu saat dia memergokiku. Tetapi Aku diciptakan sebagai sesuatu yang tidak kenal malu. Ketika Si Luas Permukaan ini membesar, Aku tidak sungkan untuk membesar pula. Dan ketika dia mengecil, Aku meringis sambil mengikutinya mengecilkan diri.
Selain ketiga sahabatku, Aku juga memiliki seseorang yang selalu melindungiku dari ancaman Energi Aktivasi. Aku merasa Energi Aktivasi seolah menyimpan sesuatu dariku, dia selalu ingin berbeda dengan pangeranku, “Katalisator”. Bukan Aku kepedean, tetapi memang seperti itu yang terjadi. Si Energi Aktivasi mengungkapkan perasaannya padaku dengan cara-cara yang membuatku lemah, hingga Aku bergerak lambat, akibatnya reaksi kimia juga sulit terjadi. Untungnya, kekasihku “Katalisator” selalu disediakan oleh para praktikan. Dengan keberadaannya, Energi Aktivasi diturunkan dan Aku bisa berjalan lebih cepat, serta dapat segera terbentuk produk kimia.
Aku memang bukan Kartini yang menyumbangkan jasa yang sangat tidak ternilai harganya dengan barang berharga manapun. Dia bukan Ibu negara tapi jasanya melebihi seorang pemimpin yang biasa-biasa saja. Sedangkan Aku hanya “Laju Reaksi”, hidupku tergantung pada ketiga sahabatku, “Konsentrasi zat, suhu, dan luas permukaan”, dan hidupku tiada berrati tanpa hadirnya pangeranku, “Katalisator” yang senantiasa menurunkan Energi Aktivasi demi tercapainya cita-citaku yaitu “Bergerak Cepat Menghasilkan Produk Kimia”.
Satu kata yang selalu Aku lantunkan kepada kalian, “Terimakasih” dan senyumku tak kan pudar dengan hadirnya kalian di sisiku. [Alvya]
Diskriminasi Sains terhadap Perempuan

Franklin seorang ahli kimia lulusan Cambridge yang bekerja di salah satu laboratorium King's College di London. Dia sebenarnya telah lama mengeluhkan kondisi kerja di universitas bergengsi tersebut. Segregasi dan diskriminasi terhadap perempuan dialami pahit oleh Franklin. Dia harus menempati sebuah laboratorium di lantai basemen yang harus melewati lorong dingin dan gelap. Dirinya dilarang masuk ruang makan dan istirahat yang nyaman di lantai atas karena hanya diperuntukkan bagi para peneliti laki-laki. Tetapi, Franklin memilih bertahan karena di situlah satu-satunya tempat dia bisa mengaplikasikan teknik X-ray crystallography yang dikuasainya.
X-ray crystallography merupakan teknik yang digunakan Franklin untuk memetakan lokasi setiap atom dalam protein yang dikristalkan. Hal itu merupakan kontribusi penting Franklin dalam mempelajari biologi molekuler. Tetapi, harga yang harus dibayar Franklin terlalu mahal. Pada usia 38 tahun, dia meninggal dunia akibat kanker yang dideritanya karena kontaminasi radioaktif selama beberapa tahun.
Empat tahun sepeninggal Franklin, James Watson dan Francis Crick menerima hadiah Nobel dalam bidang kedokteran atas paper mereka tentang struktur DNA yang berbentuk double helix yang merupakan penemuan revolusioner dalam bidang genetika. Maurice Wilkins, koordinator riset tempat Franklin bekerja, juga menerima hadiah yang sama atas kontribusinya dalam menguji model double helix yang dikembangkan Watson dan Crick.
Walaupun Franklin disebutkan dalam paper Watson dan Crick setebal satu setengah halaman yang dimuat di majalah Nature tersebut, nama dia nyaris tak terdengar dalam sejarah penemuan struktur DNA. Padahal, Franklin merupakan orang pertama yang mendapatkan hasil empiris dari foto-foto struktur DNA yang dimungkinkan oleh teknik X-ray crystallography yang dia kembangkan selama bertahun-tahun.
Watson dan Crick merupakan dua sainstis ambisius yang dengan "licik" memanfaatkan data empiris Franklin secara diam-diam ketika mereka berusaha merekonstruksi struktur DNA. Dan, ketika dua nama tersebut menjadi selebriti dalam dunia sains, nama Franklin tersimpan dalam ’laci’ sejarah yang paling bawah dan nyaris tak tersentuh.
Franklin merupakan simbol diskriminasi perempuan dalam institusi sains modern, suatu institusi yang dibangun atas nama rasionalitas dan bebas nilai. Dia merupakan catatan sejarah, yakni bagaimana institusi sains membuka ruang bagi dominasi gender yang menjadikan perempuan sebagai objek penderita dari praktik hegemoni nilai-nilai maskulinitas.
Sulfikar Amir (Rensselaer Polytechnic Institute)
Apa itu melamin?

Melamin? Mungkin kata ini sering anda dengar di acara berita beberapa bulan yang lalu. Ya, beberapa bulan lalu memang diberitakan bahwa di China ada merk susu tertentu yang didalamnya ditambahkan melamin yang bertujuan agar seolah-olah kandungan proteinnya tinggi. Akan tetapi justru zat tersebut menjadikan bahaya bagi yang mengkonsumsinya, tak tanggung-tanggung puluhan ribu bayi menjadi korbannya. Banyak sekali yang menderita gagal ginjal dan bahkan meninggal dunia.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah melamin itu?
Melamina adalah senyawa basa organik dengan rumus kimia C3H6N6 dan memiliki nama IUPAC 1,3,5-triazina-2,4,6-triamina. Ia hanya sedikit larut dalam air., kandungan nitrogennya sampai 66 persen, biasa didapat sebagai kristal putih. Melamin biasanya digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pupuk.
Plastik dari melamin, karena sifat tahan panasnya, digunakan luas untuk perkakas dapur. Jadi, melamin yang kini diributkan berbeda dengan melamin plastik perkakas. Melamin yang diributkan ini adalah bahan dasar plastik melamin.
Berdasarkan informasi di situs WHO, pencampuran melamin pada susu berawal dari tindakan pengoplosan susu dengan air. Akibat pengenceran ini, kandungan protein susu turun. Karena pabrik berbahan baku susu biasanya mengecek kandungan protein melalui penentuan kandungan nitrogen, penambahan melamin dimaksudkan untuk mengelabui pengecekan agar susu encer tadi dikategorikan normal kandungan proteinnya.
Sangat disesalkan memang, produsen yang berlaku curang yang sangat merugikan konsumen, apalagi menyangkut nyawa manusia. Sebagai konsumen kita juga harus berhati-hati dalam memilih produk yang akan kita beli.
By Taslim Wahyudin
Mahasiswa tadris kimia IAIN Walisongo Semarang